Jadi pendidikan dalam keluarga adalah proses pembentukan mental dan tingkah laku seorang anak manusia secara berkesinambungan dalam unit terkecil di dalam masyarakat. Sejatinya, pendidikan dimulai dari dalam keluarga karena tidak ada orang yang tidak dilahirkan dalam keluarga.
ANGGI AFRIANSYAH, Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan BRIN Ki Hadjar Dewantara 2013 menyebut tiga arena penting pendidikan yaitu alam keluarga, alam perguruan, dan alam pemuda. Dalam pandangan KHD di dalam paparannya mengenai pendidikan keluarga disampaikan beberapa pesan penting yang masih relevan hingga kini. Pertama, anak-anak harus dibesarkan dalam suasana penuh cinta kasih. Dalam suasana cinta kasih, menurut KHD, hilanglah rasa murka, egoisme, dan hadir perasaan ikhlas. Dalam pandangannya, limpahan cinta kasih sangat berfaedah pada pendidikan kebatinan. Kesucian, keridhaan, keikhlasan dari orang tua menjadi pendidikan bagi anak sebab mereka akan merasakan rasa mengenai kewajiban, perhatian, dan rasa cinta kasih. Kedua, pendidikan tak boleh hanya disandarkan pada sekolah. Anak-anak harus mendapat kesempatan yang banyak berkumpul bersama keluarga. Pertama, anak-anak harus dibesarkan dalam suasana penuh cinta kasih. Ketiga, pendidikan keluarga menjadi penting untuk mendidik budi pekerti. Dalam pandangan KHD, suatu kesalahan ketika orang tua sepenuhnya menyerahkan berbagai hal ke sekolah. Ia menyebut pendidikan budi pekerti tidak bisa dilakukan sambil lalu. KHD menyebut, alam keluarga yang terpenting untuk pendidikan anak. Ilmu parenting ala KHD tampaknya perlu mendapat perhatian ekstra dari pengambil kebijakan maupun orang tua. Di era industrialisasi, terjadi pembagian peran signifikan yang dilakukan oleh sekolah untuk mendidik, alam keluarga menjadi cenderung dipinggirkan dalam proses pendidikan. Di masa pandemi awal, semua kembali kepada keluarga sebab sekolah ditutup. Orang tua berjibaku mendidik anak di rumah. Orang dewasa di rumah, aktif membantu pengerjaan tugas juga perkara teknis agar pembelajaran optimal. Ini terjadi saat orang tua memiliki pemahaman memadai tentang materi, teknis pembelajaran, dan keluangan waktu. Orang tua berjibaku mendidik anak di rumah. Orang dewasa di rumah, aktif membantu pengerjaan tugas juga perkara teknis agar pembelajaran optimal. Ada keluarga yang mendapat berkah terselubung di masa pandemi. Akibat perjumpaan intensif di rumah, ikatan di antara anggota keluarga erat. Ada banyak obrolan, menemani anak belajar, juga aktivitas menyenangkan lainnya. Antaranggota keluarga lebih saling memahami. Namun, ini tak dinikmati banyak keluarga. Ada keluarga yang meski bekerja dari rumah tetapi punya beban ekstra menyelesaikan pekerjaan. Sehingga anak-anak justru tidak terperhatikan meski mereka selalu bersama di rumah. Paling menderita, tentu mereka yang marginal. Orang tua mereka mendapat PHK, lapak berjualan harus ditutup karena minim pelanggan, pemotongan gaji, dan tertimpa hal buruk lain. Untuk tetap bertahan, mereka melakukan apa pun. Sudah jelas, anak-anak di rumah tak mendapatkan pendampingan memadai. Dukungan untuk keluarga Ketika seseorang memutuskan menikah maka pemahaman mengenai dunia pernikahan yang kompleks dan menuntut tanggung jawab perlu menjadi perhatian. Ketika pasangan memutuskan memiliki anak, harus memiliki kesadaran besar merawat dan mendidik anak-anak. Ketika seseorang memutuskan menikah maka pemahaman mengenai dunia pernikahan yang kompleks dan menuntut tanggung jawab perlu menjadi perhatian. Maka, meski berkeluarga sangat personal, pemerintah perlu lebih memberi dukungan terhadap proses terbentuknya keluarga yang solid. Perhatian pemerintah terhadap pendidikan keluarga menjadi lebih mendesak. Tentu bukan dengan membuat aturan yang merumitkan pengelolaan keluarga. Pada 2015 Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kemendikbud merilis buku “Roadmap Pendidikan Keluarga Edisi Revisi”. Pada buku tersebut dipaparkan pentingnya kemitraan orang tua, kurikulum pendidikan keluarga, mekanisme pengembangan kemitraan orang tua dan satuan pendidikan, dan laman pendidikan keluarga yang dapat diakses masyarakat. Buku ini memaparkan upaya pemerintah membangun pendidikan di level keluarga. Namun catatan yang penting diperhatikan, desain yang dibangun ada pada ruang pendidikan keluarga yang ideal. Padahal saat ini terdapat ragam kompleksitas saat bicara tentang fakta keluarga. Pada posisi tersebut, situasinya lebih problematis. Orang tua tunggal dan anak-anak yang dibesarkan butuh dukungan dari orang di sekitarnya. Tidak semua keluarga harmonis dan dalam keadaan ideal untuk mendidik anak. Dalam banyak kasus, orang tua tunggal terutama perempuan mendapat stigma buruk saat memutuskan berjuang mendidik anak seorang diri. Pada posisi tersebut, situasinya lebih problematis. Orang tua tunggal dan anak-anak yang dibesarkan butuh dukungan dari orang di sekitarnya. Anak-anak yang terdidik baik mendapatkan pengasuhan di berbagai ruang pendidikan dengan baik. Tidak hanya itu, terpenuhinya kebutuhan dasar seperti sandang, papan, pangan bagi anak-anak, menjadi bagian yang tak bisa ditawar. Kembali menengok pendidikan keluarga adalah ikhtiar penting dalam mendidik anak-anak Indonesia.
Pendidikandalam keluarga lebih dahulu diperoleh anak sebelum ia mengenal lingkungan pendidikan lainnya.Pendidikan keluarga (dikkel) disebut sebagai pendidikan utama, karena di dalam lingkungan ini segenap potensi yang dimiliki anak terbentuk dan dikembangkan.William Bennett juga menyatakan bahwa keluarga
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pendidikan informal yang biasa juga disebut dengan nama pendidikan keluarga, dimana pendidikan dimulai dari lingkungan keluarga. Keluarga merupakan lingkungan pedidikan pertama dan utama dalam perkembangan karakter anak. Menurut Selo Soemarjan, keluarga adalah sebagai kelompok inti, sebab keluarga adalah masyarakat pendidikan pertama dan bersifat orangtua pasti menginginkan anaknya memiliki karakter dan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-harinya. Harapan dan keinginan dari orangtua sering kali tidak diiringi dengan tindakan dan usaha dalam membangun karakter anak ke arah yang diharapkan atau yang diinginkan. Sedangkan setiap orang anak membutuhkan bimbingan dan arahan dari orangtua dalam setiap aktivitas yang dikerjakan Tarakiawan 2001, pendidikan yang mungkin terjadi di dalam keluarga, yaitu pendidikan iman, pendidikan moral, pendidikan fisik, pendidikan intelektual, pendidikan psikis, pendidikan sosial, dan pendidikan seksual. Menurut Abdullah Nashih Ulwan 2001, metode-metode didalam pendidikan keluarga yang banyak berpengaruh terhadap anak, terdiri dari pendidikan dengan keteladanan, pendidikan dengan adat kebiasaan, pendidikan dengan nasihat, pendidikan dengan pengawasan, dan pendidikan dengan hukuman sanksi. Di dalam kehidupan sehari-hari, perilaku yang dilakukan anak lebih banyak diperoleh dari meniru. Saat orangtua melakukan ibadah sholat, baik disengaja maupun tidak disengaja, anak akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Apa yang anak tersebut lakukan adalah sebagai hasil dari melihat perbuatan orangtuanya. Sifat peniru yang telah dimiliki anak merupakan salah satu modal positif dan potensial dalam pendidikan terhadap anak. Jika didalam keluarga anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik, maka anak tersebut juga akan berkarakter baik dalam tahapan selanjutnya. Hal ini merupakan bukti bahwa lingkungan keluarga memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan anak dimasa saat ini dan di masa mendatang. Lihat Pendidikan Selengkapnya
A0ruH.